AHLAN WASAHLAN...

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...

Selamat Datang di Blog sederhana ini, semoga bisa memberikan manfaat buat kita semua. Namun apabila ada masukan atau kritikan atas postingan saya silahkan disampaikan...

By : MUJAHIDAH

Jumat, 29 Januari 2010

Sang Perantau...


Seorang perantau adalah seseorang yang siap dan rela meninggalkan kampung halaman, tanah kelahiran serta semua sanak keluarga, handai tolan serta para kerabat yang lain...

Seorang perantau harus siap untuk berada di lingkungan yang baru dan bahkan belum pernah dijajakinya, dia akan berada di tengah-tengah orang-orang yang baru dan asing...

Seorang perantau harus siap keluar dari zona nyaman, yang mana selama ini dia selalu bersama keluarganya, ibu, bapak, adek serta kakaknya yang selalu memanjakannya, serta mengabulkan setiap permintaannya.

Seorang perantau dia harus siap untuk memulai hidupnya sendiri, belajar untuk beradaptasi dan belajar untuk mempelajari orang-orang disekililingnya...

Apakah setiap orang siap hidup merantau jauh dari orang tua, dan keluarganya???
Jawabannya adalah tidak, karena tidak semua orang siap dengan resiko...

Seorang perantau, bila telah mengambil sebuah keputusan untuk merantau, maka dia juga harus siap dengan segala konsekwensi yang ada...

siapkah anda menjadi seorang perantau yang siap berpetualang dan melakukan serta mencari sesuatu yang baru dalam hidup anda???

Untuk Anak Rantau....
By : Mujahidah...

Sabtu, 07 Maret 2009

Cinta

Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan,
walaupun mereka telah dikecewakan.
Kepada mereka yang masih percaya,
walaupun mereka telah dikhianati.
Kepada mereka yang masih ingin mencintai,
walaupun mereka telah disakiti sebelumnya
dan
Kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan.
Kenangan indah masa lalu hanya untuk dikenang,
bukan untuk diingat-ingat.
Rasa takut bukanlah untuk dinikmati,
tetapi untuk dihadapi.


Orang bijaksana selalu melengkapi kehidupannya dengan banyak persahabatan.
Persahabatan sering berakhir dengan Percintaan,
tapi percintaan jarang berakhir dengan Persahabatan
Cinta tidak Untuk Dipaksa
Cinta Butuh saling pengertian
Cinta Harus Dijaga Bukan Untuk diperdebatkan


Bukanlah suatu keharusan
Mendapatkan suatu balasan
Bila cinta telah bersemi dihati
Ia tak’kan mungkin lari
Andai kini belum ada kepastian
Bukan berarti suatu penolakan
Karena cinta butuh waktu
Untuk menyatu..

yg indah itu, pertemuan.
Yg manis itu, kemesraan.
Yg pahit itu, perpisahan.
Yg tinggal hanya kenangan.

Cinta bukanlah hasrat sementara
Cinta bukanlah keinginan sesaat,
Cinta adalah sebuah ketulusam hati,
Cinta tidak tumbuh dari tampilan luara saja,
akan tetapi tumbuh dari dalam hati.

Cinta sejati adalah cinta yang timbul dari lubuk hati yang paling dalam,dan hanya dirasahkan oleh dua insan yang saling menciantai dilandasi dengan rasa kasih & sayang.

Namun sesungguhnya cinta hakiki adalah cinta karena Allah dengan mengharap ridho-Nya.

Kamis, 01 Januari 2009

Baina Ukhuwah wal Ikhtilath

ADAB DALAM PERGAULAN

1. Menundukkan mata

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (النور30) وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ .... وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (النور31)

30. Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." Sucikanlah mata anda*Mata adalah pintu terbesar menuju hati*Wajib berhati-hati dari setiap kerdipan mata terhadap lawan jenis*Menahan pandangan mata terhadap segala yang dilarang adalah wajib*Betapa banyak fitnah terjadi disebabkan pandangan mata

2. Sopan dalam berbicara

...وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ ... (الأحزاب53)

1. Ringkaskan pembicaraan, berbicara yang diperlukan

2. Berbicara dengan menundukkan mata

3. Nabi Muhammad saw berkata kepada Ali bin Abi Tolib, Artinya : Janganlah Kamu ikuti pandangan pertamadengan seterusnya, bagimu adalah pandanganpertama dan tidak boleh yang kedua “

3. Bergaul/tolong menolong

وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنْ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمْ امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ (القصص23) فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ (القصص24) فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا فَلَمَّا جَاءَهُ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفْ نَجَوْتَ مِنْ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (القصص25)

Kita dalam pergaulan

1. Diperbolehkan tolong-menolong dengan menjaga adab dan kesopanan.
2. Nabi Musa menolong putri nabi Suaib
3. Nabi Muhammad berbicara dengan Haulah di rumahnya dan ada Aisyah r.a berkaitan dengan peristiwa zihar.4. Dulu sebagian shohabiyah ikut berjihad dan menyediakan minuman dan obat-obatan.
4. Hak bagi jalanNabi Muhammad bersabda, artinya : “ Janganlah kalian duduk duduk di jalan-jalan, mereka berkata : “ Dalam jalan majlis itu kami sama sekali tidak berbicara yang bukan-bukan” Kalau memang harus duduk-dudk di tempat tersebut maka kalian harus memberikan hak jalan tersebut: Mereka berkata, apa hak jalan tersebut ya Rasulallah : “ Rasul menjawab, menahan pandangan, menyingkirkan bahaya, menjawab salam, dan amar ma’ruf nahi munkar” HR Abu Said al-Khudri.

LARANGAN DALAM PERGAULAN
1. Berjabat Tangan

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَى أَنْ لَا يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا يَسْرِقْنَ وَلَا يَزْنِينَ وَلَا يَقْتُلْنَ أَوْلَادَهُنَّ وَلَا يَأْتِينَ بِبُهْتَانٍ يَفْتَرِينَهُ بَيْنَ أَيْدِيهِنَّ وَأَرْجُلِهِنَّ وَلَا يَعْصِينَكَ فِي مَعْرُوفٍ فَبَايِعْهُنَّ وَاسْتَغْفِرْ لَهُنَّ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (الممتحنة12)12.

Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki merekadan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah maha Pengampun lagi Maha PenyayangRASULULLAH SAW TIDAK PERNAH JABAT TANGAN DENGAN WANITARasulullah berkata kepada mereka (para wanita) : Benar-benar telah aku baiat kamu.”Demi Allah kata Aisyahtangan beliau tidak menyentuh tangan seorang perempuan pun dalam pembaiatan itu. Beliau hanya membaiat mereka dalam ucapan: “ benar-benar telah aku baiat kamu atas hal ini” HR Bukhori.

2. Dilarang Berkhalwat

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (النور21)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Bahaya khalwatNabi Muhammad saw bersabda : “ Tidaklah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang perempuan kecuali yang ketiga adalah syetan “ HR Turmuzi.Dalam Sohih Muslim, dari Jarir bin Abdullah berkata: “ Saya bertanya kepada Rasulullah saw, dari pandangan yang tidak disengaja : Beliau memerintahkan kepadaku supaya memalingkan dari pandangan tersebut”
Keuntungan beradab...
1.Mata menjadi suci
2.Dekat dengan Allah dan mudah mendapat ilmu
3. Hati menjadi tenang
4. Fikiran menjadi tenang
5. Pribadi terjaga dan bersih
6. Dihormati manusia.
7. Dijauhkan dari godaan-godaan syetan
8. Mempunyai kedudukan tinggi disisi AllahAllah terus bersama kita

أَلَمْ تَرَى أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى
ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (المجادلة7)

7.Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.

(Disampaikan oleh : DR. Muqoddam Cholil, MA pada hari Ahad, 11 Mei 2008 dalam Acara KAMMI dan BEM STIU Al Hikmah)

Rabu, 21 Mei 2008

Membangun Pribadi Pantang Menyerah

Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki ataupun perempuan dalam keadaan beriman, niscaya Kami hidupkan dia dengan kehidupan yang baik dan Kami balasi mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.� (QS. An-Nahl: 97).

Allah telah menciptakan alam dan isinya berpasang-pasangan, sehingga melahirkan hukum tarik menarik antara satu dengan yang lainnya. Artinya kondisi alam ini akan selalu dinamis sesuai dengan kehendak-Nya. Begitu juga halnya dengan kehidupan manusia, akan mengalami rotasi (perputaran) antara di bawah–di atas; sukses-tidak sukses; bahagia-susah, dll. Begitu juga dengan iman kita. Iman bisa datang dan pergi, naik dan turun.
Ibnu Mas’ud mengatakan, “Sesungguhnya jiwa manusia itu mempunyai saat dimana ia ingin beribadah dan ada saat dimana enggan beribadah.� Diantara dua keadaan itulah manusia menjalani kehidupan ini. Dan diantara dua keadaan itu pula nasib manusia ditentukan.

Dalam arti lain, semakin seseorang berada dalam iman yang rendah, maka besar kemungkinan dalam kondisi ini akan mengakhiri hidupnya. Demikian sebaliknya, jika seseorang semakin sering berada pada kondisi iman yang tinggi, maka semakin besar peluangnya memperoleh akhir kehidupan yang baik. Pertanyaannya, bagaimana cara mewujudkan kondisi pribadi yang berujung kebaikan, pribadi yang pantang menyerah tersebut?

Pribadi pantang menyerah (tangguh) adalah tidak lain sebutan bagi pribadi yang tidak merasa lemah terhadap sesuatu yang terjadi dan menimpanya. Pribadinya menganggap sesuatu yang terjadi itu dari segi positifnya. Ia yakin betul bahwa sekenario Allah itu tidak akan meleset sedikit pun.

Pribadi pantang menyerah dan tangguh ini, tidak lain adalah pribadi yang memiliki kemampuan untuk bersyukur apabila ia mendapat sesuatu yang berkaitan dengan kebahagiaan, kesuksesan, medapat rezeki, dll. Sebaliknya, jika ia mendapati sesuatu yang tidak diharapkannya, entah itu berupa kesedihan, kegagalan, mendapat bala bencana, dll., maka ia memiliki ketahanan untuk selalu bersabar. Dan pribadi seperti ini memposisikan setiap kejadian yang menimpanya adalah atas ijin dan kehendak Allah. Ia pasrah dan selalu berusaha untuk bangkit dengan cara mengambil pelajaran dari setiap kejadian tersebut.

Pribadi pantang menyerah ini bukan saja semata-mata dilihat secara fisik. Tetapi lebih-lebih dan yang lebih penting justru adanya sifat positif dalam jiwanya yang begitu tangguh dan kuat.

Seseorang menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. Seseorang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Begitu juga, seseorang sukses, karena ia memiliki keinginan untuk sukses. Dan seseorang gagal, karena ia berbuat gagal. Dalam hal ini, ada hadist Nabi yang menyebutkan bahwa: “Orang mukmin yang kuat lebih disukai dan lebih baik dari mukmin yang lemah.� Jadi, manusia tangguh dam kuat itu, sudah seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada Allah.

Dalam konteks ini, dapat disebutkan bahwa kesuksesan menurut pandangan Alquran itu memiliki dua syarat pokok. Yakni iman dan ilmu (QS. 58: 11). Kedua hal ini, kalau kita kaji secara rinci, jelas-jelas memiliki pengaruh sangat besar dalam kehidupan manusia.

Dengan kuatnya iman seseorang, maka ia akan sangat berpengaruh terhadap kualitas kehidupan manusia. Menurut M. Ridwan IR Lubis (1985), ada tiga pengaruh iman tersebut, yaitu berupa: kekuatan berpikir (quwatul idraak), kekuatan fisik (quwatul jismi), dan kekuatan ruh (quwatur ruuh).

Sedangkan menurut M. Yunan Nasution (1976), mengungkapkan pengaruh iman terhadap kehidupan manusia itu berupa: iman akan melenyapkan kepercayaan kepada kekuasaan benda; menanamkan semangat berani menghadapi maut; membentuk ketentraman jiwa; dan membentuk kehidupan yang baik.

Untuk mencapai dampak dari kekuatan iman itu, kuncinya terletak pada pribadi kita masing-masing. Dan kalau kita cermati, sebenarnya pembentukan sifat pribadi pantang menyerah dan tangguh ini adalah berawal dari sifat optimisme yang menyelimuti pola pikir orang tersebut.

Menyikapi keadaan seperti saat ini, kita seharusnya tidak menjadi pesimis dan berserah diri. Kita harus optimis dan selalu berusaha untuk mencapai yang terbaik dalam hidup ini. Sehingga untuk menjadikan pribadi pantang menyerah dan tangguh ini, maka dalam diri kita harus tertanam sikap optimis, berpikir positif, dan percaya diri.
Setiap manusia harus memiliki optimisme dalam menjalani kehidupan ini. Dengan sikap optimis, langkah kita akan tegar menghadapi setiap cobaan dan menatap masa depan penuh dengan keyakinan terhadap Sang Pencipta. Karena garis kehidupan setiap manusia sudah ditentukan-Nya. Tugas kita adalah hanya berusaha, berpikir dan berdoa agar sesuai dengan ridho-Nya.

Setelah kita mampu bersikap optimis, lalu pola pikir kita juga harus dibiasakan berpikir secara positif dan percaya diri. Berpikir positif kepada siapa? Pertama, berpikir positif kepada Allah. Setiap kejadian, peristiwa dan fenomena kehidupan ini pasti ada sebab musababnya. Tugas kita, hanya berpikir dan membaca. Ada apa dibalik semua itu? Lalu, kita mengambil pelajaran dari kejadian itu dan selanjutnya mengamalkan yang baiknya dalam perilaku keseharian.

Kedua, berpikir positif terhadap diri sendiri. Setiap manusia, dilahirkan sebagai pribadi yang unik. Karena bagaimanapun wajah dan sifat kita mirip dengan orang lain. Tapi, yang jelas ada saja perbedaan antara keduanya.
Sifat dan pribadi unik itu, harus kita jaga. Itu adalah potensi positif, modal dasar untuk mencapai keleluasaan langkah kita menuju ridho-Nya. Bagaimana orang lain akan menjunjung kita, kalau diri kita sendiri meremehkan dan tidak ‘mengangkatnya’.

Selain itu, kita juga harus yakin bahwa kita dilahirkan ke dunia ini sebagai sang juara, the best. Fakta membuktikan, dari berjuta-juta sel sperma yang disemprotkan Bapak kita, tetapi ternyata yang mampu menembus dinding telur Ibu kita dan dibuahi, hanya satu. Itulah kita, ‘sang juara’. Hal ini, kalau kita sadari akan menjadi sebuah motivasi luar biasa dalam menjalani hidup ini.

Ketiga, berpikir positif pada orang lain. Orang lain itu, manusia biasa sama dengan kita. Dia mempunyai kesalahan dan kekhilafan. Yang tentu hati nuraninya tidak menghendakinya. Pandanglah, orang lain itu dari sisi positifnya saja dan menerima sisi negatifnya sebagai pelajaran bagi kita.

Belajarlah dari seekor burung Garuda. Ia mengajarkan anaknya untuk terbang dari tempat yang tinggi dan menjatuhkannya. Lalu jatuh, diangkat lagi dan seterusnya sampai ia bisa terbang sendiri. Hati Garuda juga bersih, tidak mendendam. Ia kalau waktunya bermain ‘cakar-cakaran’. Tapi, kalau diluar itu ia akur, damai kembali.
Keempat, berpikir positif pada waktu. Setiap manusia diberi waktu yang sama, dimana pun dia berada. Sebanyak 24 jam sehari atau 86.400 detik sehari. Waktu itu, ingin kita apakan? Kita gunakan untuk tidur seharian, kerja keras, mengeluh, berdemontrasi, bergunjing, santai, menuntut ilmu, menolong orang lain, melamun, ibadah, dan lainnya. Waktu itu tidak akan protes.

Yang jelas, setiap detik hidup kita akan diminta pertanggung jawabannya kelak, di hadapan Allah SWT. Bagi mereka yang biasa mengisi waktunya dengan amal-amalan saleh dan berada dalam keimanan, maka ia akan memperoleh kehidupan yang lebih baik. Allah berfirman, yang artinya: “Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki ataupun perempuan dalam keadaan beriman, niscaya Kami hidupkan dia dengan kehidupan yang baik dan Kami balasi mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.� (QS. An-Nahl: 97).

Untuk memaksimalkan sikap positif pada diri seseorang, lebih-lebih sebagai pembentuk pribadi yang pantang menyerah, tangguh, ‘tahan banting’, sabar dan istiqomah pada jalan-Nya. Tentu perlu dibagun pula dengan kebiasaan positif.

Semoga tulisan ini menjadi bahan penilaian terhadap diri kita sendiri, terutama kaitannya dengan keinginan pembentukan pribadi yang pantang menyerah. Dan kita berdoa, semoga Allah memberi kemampuan terhadap kita untuk membangun pribadi yang tangguh dan pantang menyerah sesuai tuntutan-Nya. Amin. Wallahu a'alam.

by: ust Salim

QABASAT

"Kepahlawanan itu ada pada tahan uji, kesabaran, kesungguhan, dan kerja yang tak kenal lelah. Barangsiapa ingin menikmati buah sebelum matang dan ingin memetik bunga sebelum mekar, maka lebih baik baginya minggir dari dakwah ini dan mencari dakwah yang lain." (Hasan Al Banna)

"Adapun orang yang tidur dengan sepenuh kelopak matanya, makan dengan sepenuh mulutnya, tertawa dengan sepenuh kerongkongannya, dan menghabiskan waktunya dengan permainan, gurauan, pekerjaan yang sia-sia serta gelimangan nafsu, sungguh sangat jauh dari keberhasialan dan tidak tertulis dalam barisan para pejuag". (Majmu'atur Rasail)

"Bila engkau penat menempuh jalan panjang, menanjak dan berliku dengan berjalan secara perlahan atau berlari, maka berhenti dan duduklah sejenak. Diamlah sambil memandang keatas, Dia sedang melukiskan pelangi untukmu…”

"Keberhasilan adalah hak bagi siapapun yang mau bersusah payah dalam mengejar keberhasilannya. Orang-orang yang akan dapat menikmati keberhasialn tersebut hanyalah orang yang mamiliki cita-cita dan tekad yang kuat serta mau merasakan kesusahan terlebih dahulu demi mencapai keberhasilan tersebut".

”Sesungguhnya dunia ini tempat menggiurkan yang licin dan rumah kehinaan. Bangunannya akan hancur dan penghuninya akan masuk liang lahat. Semua isinya akan berpisah dan dengan kefakiran janganlah resah. Menumpuk harta (kelak) mendatangkan kesulitan dan keiskinan adalah suatu kemudahan (pada penghisaban).

Oleh karena itu takutlah kepada Allah dan hanya kepadaNyalah diri berserah. Janganlah kamu gadaikan kehidupan abadi dengan rumah fantasi. Sesungguhnya kehidupan di dunia akan luntur dan temboknya akan hancur. Perbanyaklah amalan dan jangan memperbanyak angan-angan. (Imam Syafi’i)